Determinants of Failure to Grow on Toddlers (Stunting)

Aprina Aprina(1*), Erwandi Erwandi(2)
(1) Poltekkes Tanjungkarang
(2) BKKBN Provinsi Lampung
(*) Corresponding Author
DOI : 10.30604/jika.v6i3.601

Abstract

The incidence of stunting in infants illustrates the problems felt in each country in 2017 of 22.2% (World Health Organization, 2018), the prevalence of stunting infants in Indonesia in 2017, the prevalence of stunting has differed to 29.6% (Ministry of Health RI, 2018), Lampung is located in the 10th place as a province with a very large type of stunting (40%) and Central Lampung district. Lampung is currently getting information on stunting babies which were found to be 40 babies (16.2%). The purpose of this study was to identify the Determinants of Developmental Failure (Edit) in Children in Tanjung Rejo Village, Central Lampung Regency in 2021. This type of quantitative research with a Case-control approach, The size of the illustration can be determined by the Lemeshow formula so that the sample size is 40 toddlers for the case group and 40 toddlers for the control group. The sampling technique is simple random sampling. The bivariate analysis uses the Chi-Square test. and Multivariate Analysis with Logistic Regression Test. The results of the research obtained a p-value of 0.000 which means that there is an effect of birth length with Stunting Events. p-value 0.210 with OR OR 444 (95% CI0, 122-1.617) if birth weight is present with Stunting Events, p-value 0, 000. There is an effect of exclusive breastfeeding with Stunting Events. p-value 0.000, there is an effect of Breastfeeding up to 2 years with Stunting Events, p-value 0.001, there is an effect of Immunization Status with Stunting Events, p-value 0.001, there is an influence between birth spacing and Stunting Events, p-value 0.001, there is an effect of the number of children with stunting events, p-value 0.000, there is an influence of economic status with stunting events and the aspect with a very large risk of stunting is economic (95% CI 0.852-70. 346), it should be attention in terms of economic access and meeting the needs that are moderate or less for families with babies which will affect the quality of food consumption for family members.

 

Abstrak: Kejadian stunting pada balita merupakan masalah yang dialami hampir di setiap negara Tahun 2017 sebesar 22,2% (World Health Organization, 2018), Prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2017, prevalensi stunting telah mengalami penurunan menjadi 29,6% (Kemenkes RI, 2018), Lampung berada pada urutan ke-10 sebagai provinsi dengan kategori stunting sangat tinggi (40%) dan kabupaten Lampung Tengah Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang penulis lakukan di Desa Tanjung Rejo Kab.Lampung tengah diperoleh data balita stunting berjumlah 40 balita (16,2%),Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Determinan Gagal Tumbuh (Sunting) Pada Anak di Desa Tanjung Rejo Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2021. Jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Case control, Besarnya sampel dapat ditentukan dengan rumus Lemeshow, maka jumlah sampelnya 40 Balita untuk kelompok kasus dan 40 balita untuk kelompok Teknik sampling secara simpel random sampling, Analisa Bivariat menggunakan uji Chi Square. dan Analisis Multivariat dengan Uji Regeresi Logistik, Hasil penelitian dikeperoleh hasil p-value 0,000  berarti ada pengaruh Panjang badan lahir dengan Kejadian Stunting.p -value 0,210 dengan OR 0,444 (95% CI 0,122-1.617)   bahwa bahwa berat badan lahir ada hubungan dengan Kejadian Stunting, p-value 0,000  ada pengaruh Pemberian Asi Eksklusif dengan Kejadian Stunting. p-value 0,000  ada pengaruh Pemberian Asi sampai 2 tahun dengan Kejadian Stunting, p-value 0,001  ada pengaruh Status Imunisasi dengan Kejadian Stunting, p-value 0,001  ada pengaruh antara jarak kelahiran dengan Kejadian Stunting, p-value 0,001  ada pengaruh jumlah anak dengan Kejadian Stunting, p-value 0,000  ada pengaruh status ekonomi dengan Kejadian Stunting dan Faktor dengan besar risiko paling besar terhadap kejadian stunting adalah Ekonomi (95% CI 0.852-70.346), Sebaiknya menjadi perhatian dari segi akses ekonomi dan pemenuhan kebutuhan yang cukup maupun kurang bagi keluarga yang memiliki balita yang nantinya akan berpengaruh terhadap meningkatknya kualitas konsumsi pangan anggota keluarga.

Keywords


Determinan; Stunting; Anak; Child

References


Agung, Alfin. 2006. Masih Disusui di Atas 2 Tahun. The Mail Archive https://asiku.wordpress.com/2006/06/26/masih-disusui-di-atas-2-tahun-2/ (diakses pada 4 Oktober 2017)

Andriana, Merryana, dkk. 2014. Gizi dan Kesehatan Balita; Peranan Mikro Zinc pada Pertumbuhan Balita. Jakarta: Kencana

Andriana, Merryana, dkk. 2014. Gizi dan Kesehatan Balita; Peranan Mikro Zinc pada Pertumbuhan Balita. Jakarta: Kencana

Anindita, Putri. 2012. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga, Kecukupan Protein & Zinc Dengan Stunting (Pendek) Pada Balita Usia 6–35 Bulan Di Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 617-626 Online di http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm

Anisa, Paramitha. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita usia 25-60 bulan di Kelurahan Kalibaru Depok Tahun 2012. Skripsi. Fakultas Kesehatan Msyarakat Universitas Indonesia.

Aridiyah dkk. 2016. Faktor yang Mempengaruhi Stunting pada Balita di Pedesaan dan Perkotaan. e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 3 (no. 1) Januari 2015 Ariyanti, SF. 2017. Epidemiologi Stunting. Universitas Sumatera Utara. Tersedia di

Ariyanti, SF. 2017. Epidemiologi Stunting. Universitas Sumatera Utara. Tersedia di http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/57498/4/ Chapter%20II.pdf.

Aryu. 2013. Hubungan Underlying Factors Dengan Kejadian Stunting Pada Anak 1-2 Tahun. Semarang: Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Ayuningtias, Mutia. (2016). Hubungan Karakteristik Keluarga Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Baru Sekolah. Skripsi. Semarang: Program Studi Ilmu Gizi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran.

Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EKG Stewart CP,

Candra, Aryu. 2013. Hubungan Underlying Factors Dengan Kejadian Stunting Pada Anak 1-2 Tahun. Semarang: Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Candra, Dewi, dkk. 2017. Pengaruh Konsumsi Protein Dan Seng Serta Riwayat Penyakit Infeksi Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Balita Umur 24-59 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Nusa Penida III. Arc. Com. Health, 3(1):36-46 Darteh et al. 2014. Correlates of stunting among children in Ghana. BMC Public Health 2014, 14:504 http://www.biomedcentral.com/1471-2458/14/504

Dewi, Devillya Puspita. 2015. Status Stunting Kaitannya dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Baita di Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Medika Respati Vol X nomor 4 Oktober 2015: 60-65 102

Ernawati, Fitrah, dkk. 2013. Pengaruh Asupan Protein Ibu Hamil Dan Panjang Badan Bayi Lahir Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12 Bulan di Kabupaten Bogor. Penelitian Gizi Dan Makanan, Juni 2013 Vol. 36 (1): 1-

Faramita, Ratih. 2014. Hubungan Faktor Sosial Ekonomi Keluarga dengan Kejadian Stunting Anak Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Barombong Kota Makassar Tahun 2014. Skripsi. Makassar: Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin.

Fitrah, dkk. 2013. Pengaruh Asupan Protein Ibu Hamil Dan Panjang Badan Bayi Lahir Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 12 Bulan di Kabupaten Bogor. Penelitian Gizi Dan Makanan, Juni 2013 Vol. 36 (1): 1- 11

Fitryaningsih, Ani. 2016. Hubungan Berat Badan Lahir dan Jumlah Anak Dalam Keluarga Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Gilingan Surakarta. Skripsi. Program Studi S1 Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta

Hairunis, dkk. 2016. Determinan Kejadian Stunting pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Soromandi Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. E-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 4 (no. 2) Mei 2016

Iannotti L, Dewey KG, Michaelsen KF & Onyango AW. (2013) Contextualising Complementary Feeding in a Broader Framework for Stunting Prevention. Maternal and Child Nutrition;9(Suppl 2):27-45.

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No: 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Dan Anak Direktorat Bina Gizi, Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, Dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, Serta Pelayanan Kesehatan Seksual

Kementerian Kesehatan RI. 2018. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018. Jakarta:

Khoirun dkk. (2015). Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita. Media Gizi Indonesia, Vol. 10, No. 1 Januari–Juni 2015: Hlm. 13–19 Kusumawati, dkk. 2015. Model Pengendalian Faktor Risiko Stunting pada Anak. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 9(3):249-256 103

Kurnia, Wina. 2014. Hubungan Asupan Zat Gizi dan Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting Anak Usia 24-59 Bulan di Posyandu Asoka II Wilayah Pesisir Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate Kota Makassar Tahun 2014. Skripsi. Makassar: Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin.

Rahayu, Atikah, dkk. 2015. Riwayat Berat Badan Lahir dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia Bawah Dua Tahun Kesmas. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 9(3):67-73

Saryono. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika

Stewart CP, Iannotti L, Dewey KG, Michaelsen KF & Onyango AW. (2013) Contextualising Complementary Feeding in a Broader Framework for Stunting Prevention. Maternal and Child Nutrition;9(Suppl 2):27-45.

Suciari, Luh Sri. 2015. Hubungan Antara Status Gizi Saat Hamil, Panjang Badan Lahir, Berat Badan Lahir, dan Umur Awal Pemberian MP-ASI Dengan Keadaan Stunting pada Balita Umur 24-59 Bulan di UPT Puskesmas Klungkung I (Skripsi). Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Supariasa, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Susilowati, dkk. (2010). Breast-feeding duration and children’s nutritional status atage 12-24 months. Paediatr Indones, 50:56-61


Article Statistic

Abstract view : 25 times
Fulltext (Bahasa Indonesia) views : 11 times

Dimensions Metrics

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.