Prevalensi Penyakit Infeksi Menular Seksual pada Pelaku Hiburan di Wilayah Kerja Puskesmas Meninting Kabupaten Lombok Barat Tahun 2020

Moch Maswan(1*), Sabariah Sabariah(2), Nyoman Cahyadi Tri Setiawan(3), Muhammad Ashhabul Kahfi Mathar(4)
(1) Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Al-Azhar
(2) Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Al-Azhar
(3) Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Al-Azhar
(4) Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Al-Azhar
(*) Corresponding Author
DOI : 10.30604/jika.v6i1.978

Abstract

Kejadian infeksi menular seksual setiap tahunnya meningkat khusunya pada Provinsi Nusa Tenggara Barat di kabupaten Lombok Barat yang merupakan daerah destinasi wisata dengan kunjungan yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi menular seksual pada pelaku hiburan di wilayah kerja Puskesmas Meninting. Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian cross sectional dan dilakukan selama bulan November-Desember 2020 di tempat hiburan wilayah kerja Puskesmas Meninting. Sampel yang digunakan sejumlah 101 sampel dengan menggunakan sampel darah dan duh tubuh. Analisis data diolah menggunakan software IBM SPSS Statistics 25.0. Didapatkan 56 orang menderita IMS yang tersebar di 6 lokasi pengambilan sampel. Distribusi usia pada penelitian ini didapatkan yakni usia 19 – 35 tahun sedangkan distribusi agen penyebab IMS pada penelitian ini didapatkan penderita Sifilis merupakan kasus terbanyak. Pada penelititan ini didapatkan agen penyebab infeksi menular seksual yang merupakan kasus terbanyak yaitu Sifilis dan sebaliknya didapatkan infeksi HIV merupakan kasus yang terkecil. Distribusi usia pada kejadian infeksi menular seksual dalam penelitian ini didapatkan pada usia 19-35 tahun.

Keywords


Prevalensi; Infeksi menular seksual; Pelaku hiburan

References


Irawan.Y. 2020. Data Penyebaran dan Pencegahan Infeksi Menular Seksual. Diakses pada tanggal 2 November 2020, dari https://www.sammariewijaya-hospital.com/artikel/infeksi-menular-seksual-data-penyebaran-dan-pencegahan

Profil Dinkes NTB, 2017. Diakses pada tanggal 10 November 2020, dari https://www.kemkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES_PROVINSI_2017/18_NTB_2017.pdf

Profil kesehtan lombok barat. 2014. Diakses pada tanggal 10 November 2020, dari https://www.kemkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KAB_KOTA_2014/5201_NTB_Kab_Lombok_Barat_2014.pdf

Fahmi DS. Gonore In: Zubier Farida(editor). Infeksi menular Seksual edisi keempat. FKUI. Jakarta: 2015. Pp:65

Nyoman K, Ni. Infeksi Menular Seksual dan Infeksi Saluran Reproduksi. Diskes Bali. Bali: 2011.

Fahmi, DS. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi ketujuh. FKUI. Jakarta: 2015.

Clevere S, R dan Ari M, GA Made. Penyakit kulit dan kelamin. Nuha medika. Yogyakarta:2013. Pp:131

Wong B. 2015. Drug & DiseaseGonorrhoeae. Medscape (Online). http:// emedicine. medscape.com/article/218059-medication#showall

Division of STD prevention. 2015. STD Gonorrhoeae. CDC (online). http://www.cdc.gov/std/gonorrhea/stats.htm

Medline Plus. 2015. Gonorrhoeae. https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/gonorrhea.html

Goldsmith L. A. dkk. 2012. Fitzpatrick Dermatology in General Medicine Eighth Edition. New York: McGraw Hill.

Tapsall, JW. 2005. AntibioticResistantein Neisseria gonorrhoeae. Accessted November 12, 2020 from http://cid.oxfordjournals.org/content/41/Supplement_4/S263.full

Chandra B. Kontrol Penyakit Menular Pada Manusia. EGC. Jakarta: 2013. Pp:42

Wolff K, Johnson R.A, Saavedra A.P. 2013. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical dermatologys Seventh Edition. New Yoark: Mc Graw Hill.

Malik SR, et al. GonoreIn: Amiruddin, MD(editor). Penyakit Menular Seksual. Makassar: Universitas Hasanuddin. 2004.

Malhotra M et al. 2013. Genital Chlamydia Trachomatis: An Update. Accessted November 13, 2020 from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818592/)

Afriana N. 2012. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi gonore pada wanita penjaja sex komersial: An Update. http://www.lib.ui.ac.id.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818592/)

Jawas FA, Murtiastutik D. 2008. Gonorrhoeae patient in sexually transmitted disease division, dermato venerology departemen of Dr.Soetomo general hospital in 2002-2006: An Update. Accessted November 14, 2020 from http://www.lib.ui.ac.id.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818592/)

Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual. Kementrian Kesehatan RI Dirjen PP dan PL. 2011.

Jesus MBD, Ehlers MM, Dreyer W, Kock NM. Mini Riview: Syphilis. J FORTAMex. 2013. p1787-1798

Yoga T. Situasi Epidemiologi HIV-AIDS di Indonesia. Dirjen PP dan P Kementrian Kesehatan RI. 2012

Holmes KX, Sparling PF, Stam WE, Piot P, Wasserheit J, Corey L, et al. In: Sexually Transmitted Disease 4rd. New York: McGraw Hill. 2008. p661 – 84

Sokolovskiy E, Frigo N, Rotanov S, Savicheva A, Dolia O, Kitajeva N, et al. Guidelines fot the laboratory diagnosis of syphilis in East European countries. J EADV. 2009;23(1):623-32.

Linda H., 2013. Prevalensi IMS pada wanita pekerja seks di klinik pada tiga puskesmas Kabupaten Deli Serdang 2010-2013. Universitas Sumatera Utara. Diakses pada tanggal 10 Maret 2021 dari https://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/2926/107027012.pdf?sequence=1&isAllowed=y.

Luisa O., Wahyu A., Nining F. 2019. Fenomena Remaja Yang Bekerja Sebagai Wanita Pekerja Seks di Kota Kupang Periode Mei-Oktober 2019. Diakses pada tanggal 10 Maret 2021 dari https://e-journal.unair.ac.id/IMHSJ/article/download/30604/15836.

Janier M, Hegyi V, Dupin N, Unemo M, Tiplica GS, Potocnik M, et al. 2014 European Guideline on the Management of Syphilis. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2014 Oct;28(1):1-29


Article Statistic

Abstract view : 1309 times
Fulltext (Bahasa Indonesia) views : 1421 times

Dimensions Metrics

How To Cite This :

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.